Senin, 28 Mei 2012

Analisis

Baju Bodo
1.DESKRIPSI
      A.ASAL USUL BAJU BODO






 JAKARTA, MEDIA INDONESIA – ORGANZA tanpa lengan ini sudah turun-temurun dipakai perempuan Bugis.  Kata bodo diambil dari bahasa setempat, yang berarti ’tak berlengan’.
Menurut tradisi, suku dari Sulawesi Selatan sejak dahulu sudah menetapkan enam penggolongan warna bagi pemakainya.
Masing-masing menunjukkan tingkat usia juga status sosial. Baju bodo berwarna jingga hanya dikenakan oleh anak perempuan usia 10 tahun. Campuran jingga dan merah darah dikenakan gadis yang usianya antara 10 tahun dan 14 tahun.
Beranjak ke usia 17 tahun hingga 25 tahun, sang gadis mengenakan organza putih dipakai para inang dan dukun, hijau khusus buat putri bangsawan, lalu ungu bagi para janda.
Umumnya, baju bodo dipadukan dengan lipa sabbe, yakni sarung sutra bercorak kotak. Kemudian para perempuan menambahkan aksesori seperti bando kembang goyang, untaian kembang kuningan di leher, dan gelang tebal.
Para perempuan akan memamerkan baju bodo mereka pada pesta besar seperti pernikahan. Namun zaman sekarang ketika pilihan baju pesta seperti kebaya modern dan gaun malam lebih populer, keturunan Bugis hanya memakai pakaian tradisionalnya saat ia menikah atau mendampingi mempelai wanita sebagai passappi. Tentunya, aturan warna pun tidak lagi dipertimbangkan secara ketat.
Beberapa kali, sejumlah perancang dalam negeri berusaha mempopulerkan kembali baju bodo. Salah satunya Oscar Lawalata, yang pertengahan tahun ini mulai memasukkan kembali baju bodo dengan potongan simetris sederhananya ke dalam butik berlabel Oscar Lawalata Culture. (Ccs/N-1)
(Sumber MEDIA INDONESIA, 10 November 2008)
Baju bodo  merupakan jenis baju bungkus yang memiliki busana kutang yang artinya busana yang dipakai dengan cara dimasukkan melalui kepala baik
mempunyai sambungan lengan ataupun tidak. Contoh busana tradisional Indonesia yang
memiliki bentuk dasar Kutang yaitu :
1. Baju Kurung di Sumatera Barat
2. Baju Bodo di Sulawesi Selatan
3. Baju Poro-poro di Sumbawa\
]
4. Baju Rambunua di Flores
5. Baju Cele di Ambon baju Teluk Belanga di Sumatera Barat
Bentuk Kaftan merupakan bentuk dasar busana bagian atas yang memiliki belahan pada pada bagian muka.

Baju Bodo Sebagai Salah Satu Busana Tradisional Indonesia dari Daerah
Sulawesi Selatan

Baju Bodo merupakan busana khas wanita di daerah Makasar, Mandar dan Bugis di
propinsi Sulawesi Selatan. Baju Bodo disebut pula Bodo Gesung atau baju yang
berlengan pendek dan menggelembung karena pada bagian punggungnya
menggelembung. Baju Bodo merupakan busana tertua usianya di bandingkan busana adat
lainnya di daerah Sulawesi.
Busana adat ini terdiri dari blus sebagai busana bagian atas dan sarung sebagai busana
bagian bawahnya. Sementara blusnya terdiri dari jenis baju Bodo dan baju Labbu. Baju
Labbu merupakan baju Bodo berlengan panjang. Baju Bodo seperti telah di jelaskan di
muka termasuk busana tradisional Indonesia yang tergolong jenis busana kutang pada
bagian blusnya dan busana bungkus pada bagian sarungnya.
Penduduk Sulawesi mengenal busana dari tekstil sejak zaman batu muda. Ciri zaman
batu muda adalah adanya kepandaian mengasah, membentuk alat-alat batu sehingga
diperoleh bentuk yang indah dan bernilai seni tinggi juga terjadi perubahan penghidupan
dari foodgathering menjadi foodproducting. Kehidupan mengembara menjadi kehidupan
tinggal menetap untuk bercocok tanam dan berternak.
Perubahan sosial yang terjadi membawa perubahan pada seluruh segi kehidupan, maka
muncullah masyarakat terorganisir dengan segala bentuk peraturan. Ikatan kerjasama
kemudian menciptakan pembagian kerja dan pada akhirnya timbul kepandaian tertentu
seperti membuat kerajinan tangan sebagai perhiasan seperti gelang dan kalung, menenun
pakaian dari bahan tekstil dan membuat periuk belanga.
Ketentuan atau tata cara berbusana pada masyarakat Sulawesi telah diatur dalam sebuah
kitab suci yaitu Patuntung atau tuntunan yang merupakan pedoman dalam menjalankan
kaidah kerohanian. Selain itu kitab suci tersebut berisi mantera untuk pengobatan, mandi
dan pernikahan. Kitab suci tersebut berasal dari warisan kepercayaan asli yaitu
animisme dan dinamisme sebagai sistem religi dan agama serta kepercayan yang benar
yang terbagi kedalam Toani Tolotang, Patuntung dan Aluk Todolo.
5
Pada awalnya baju Bodo terbuat dari kain kasa merah atau hitam rangkap dua dan
dikanji. Panjangnya hingga ke tanah , sehingga merupakan 2 x panjang busana dengan
lebar  1 m. Kain itu kemudian dilipat menurut panjangnya. Kedua sisanya dijahit, lalu
disisakan 12 cm sebagai lubang lengan. Bagian lubang lengan waktu memakainya agak
disingsingkan sehingga lengan menggelembung. Sarung tidak diikat pada pinggang
namun hanya dipegang saja dengan tangan kiri.
Ciri khas baju Bodo adalah :
a. Berbentuk segi empat.
b. Tidak berlengan .
c. Sisi samping blus dijahit.
d. Bentuk bagian badan blus menggelembung.
e. Bagian atas dilubangi untuk memasukkan kepala yang sekaligus juga merupakan
garis untuk lubang leher.
f. Tidak memiliki sambungan jahitan pada bagian bahu
g. Memakai hiasan berupa kepingan – kepingan logam berbentuk bulat berwarna emas
di seluruh pinggiran dan permukaan blus.
Kain yang dipergunakan untuk baju Bodo merupakan kain sutera yang tipis atau dari
serat nanas namun tidak tembus pandang karena dibuat rangkap dua. Warna dan
panjangnya Baju Bodo menunjukkan status perkawinan atau kedudukan si pemakai,
seperti :
No. Pemakai Warna Baju Bodo
1. Wanita yang sudah bersuami Merah tua (baju Bodo panjang)
2. Wanita puteri keraton Merah jambu (baju Bodo pendek)
3. Gadis di lingkungan keraton Hijau muda (baju Bodo pendek)
4. Gadis dari kalangan biasa Kuning (baju Bodo pendek)
5. Ibu mempelai wanita Hitam (baju Bodo panjang)
6. Pengantin wanita Merah darah (baju Bodo pendek)
7. Ibu pengasuh puteri keraton Putih (baju Bodo pendek)
Adanya pembagian warna pada pemakaian baju Bodo karena pada mulanya penduduk
Sulawesi merupakan campuran dari berbagai ras, maka dalam perkembangannya
kemudian terdapat sejumlah kesatuan sosial. Secara horizontal ditandai dengan adanya
perbedaan suku dan masing-masing memiliki kebudayaan sendiri dan kepercayaan
keagamaan yang bermacam-macam seperti kepercayaan asli yaitu animisme dan
dinamisme, Islam dan Kristen.
7
Adaptasi ekonomi juga memperlihatkan perbedaan, seperti semi nomaden yang
berpindah-pindah, menanam padi, nelayan, pedagang dan industri rumah tangga. Struktur
masyarakat ditandai oleh adanya perbedaan secara vertikal antara lapisan atas dan lapisn
bawah yang cukup tajam, sedang struktur politik tradisional terdapat mulai dari anak
suku sampai pada kerajaan. Namun demikian masyarakat mengembangkan kepercayaan
bahwa mereka berasal dari satu keturunan yaitu dari Dinasti Sawerigading yang
didukung mitos yang hidup dalam masyarakat.
Menurut kesusastraan Lagaligo, masyarakat Sulawesi Selatan mengenal pelapisan sosial
strata bangsawan yaitu Ana ‘karaeng bagi suku Makasar, Anakarung bagi suku Bugis
dan Tomaradeka atau orang merdeka bagi rakyat biasa. Dalam kehidupan sosial,
kelompok bangsawan dipandang sebagai kelas yang terpenting, dalam strata ini selalu
dipilih orang-orang yang pantas menduduki jabatan politik, sehingga sering dipandang
sebagai lapisan sosial yang memerintah.
Sarung yang dipergunakan sebagai paduan baju Bodo terbuat dari benang biasa atau
sutera asli yang berasal dari serat alam, serat pisang hutan, serat akar anggrek liar.
Sarung merupakan sarung tenun Mandar dan tenunan Bugis. Warna sarung yang
dipergunakan biasanya memiliki warna dasar hitam, coklat tua atau biru tua. Apabila
sarung dibuat dengan warna mengkilap disebut Lipa Sabbe. Ciri khas motif yang dipakai
adalah corak kotak-kotak besar atau kecil dengan hiasan emas pada garisnya.
Kelengkapan busana yang biasa dipakai untuk baju Bodo sebagai aksessoris dan
millineris adalah :
a. Selendang tipis dengan ujung – ujungnya dihiasi bundaran emas atau perak.
b. Tali ikat untuk mengencangkan lilitan sarung.
c. Ikat pinggang emas dengan pendingnya yang penuh dengan perhiasan.
d. Kipas.
e. Berbagai perhiasan emas, seperti ;
1) Sanggul berhiaskan bunga dengan tangkainya (pinang goyang).
2) Anting panjang (bangkarak).
8
3) Kalung berantai (geno ma’bule).
4) Kalung panjang (rantekote).
5) Kalung besar (geno sibatu).
f. Alas kaki dahulu tidak beralas kaki, namun sekarang menggunakan alas kaki berupa
selop atau sepatu pantoffel berwarna hitam.
Tata rias rambut yang biasa dipergunakan sebagai kelengkapan berbusana baju Bodo
adalah :
1. Sanggul yang letaknya rendah dengan hiasan tusuk sanggul emas besar berupa
kuntum bunga-bunga palsu dari kain, dan kembang goyang berupa bando yang
berbentuk setengah lingkaran dipakai membujur dihiasi bunga-bunga emas.
2. Untuk acara resmi rambut ditata dengan model sasak sedikit tinggi (sigara).
3. Atau sanggul agak rendah dan diletakkan agak ke sebelah kanan, berhias tusuk konde
dan di bagian pelipis kanan dan kiri diselipkan kembang goyang emas. Sederet bunga
serempa dan bunga seruni menghiasi seputar sanggul.
Keseluruhan penampilan baju Bodo tampak mewah dan gemerlap, hal ini dilatar
belakangi pada abad pertengahan penduduk Sulawesi memperlihatkan kekayaan mereka
dengan busana yang mewah dan perhiasan dari emas murni, permata yang mahal, kain
import yang berkualitas tinggi. Kondisi ini menurut ketererangan dalam sejarah Sulawesi
yaitu pemberitaan Tome Pires, hingga permulaan abad 16 pelayaran niaga penduduk dari
pulau Sulawesi atau dikenal dengan sebutan Ilhas dos Macassar berkisar pada
pemasaran produksi pertanian dan pertambangan seperti beras dan emas dengan
jangkauan pelayaran sampai kejaringan perdagangan Laut Cina Selatan dan Selat
Malaka.
Gambaran keadaan perdagangan Makasar pada permulan abad 16 hingga pertengahan
abad 17 menunjukkan bahwa Makasar ketika itu telah berkedudukan sebagai pusat
perdagangan terpenting, sebagai pelabuhan internasional dan pelabuhan transito bukan
hanya untuk kawasan Sulawesi tetapi juga kawasan timur Indonesia.
9
Komoditi dagang saat itu terdiri dari berbagai jenis produksi dari India seperti karikam,
dram, touria gadia, bethilles. Produksi dari Cina seperti : poselin, sutera, emas,perhiasan
emas, gong. Selain itu kayu sapan, rotan, lilin, parang, pedang, kapak, kain selayar, kain
bima, sisik penyu dan mutiara. Kemajuan Makasar dinyatakan oleh Anthony Reid
sebagai kisah kemajuan dan keberhasilan yang luar biasa dalam sejarah Indonesia.
Pemakaian baju Bodo di Sulawesi lebih banyak dipakai untul ritual, seperti pada upacara
kematian, perkawinan dan perayaan lainnya, semua kegiatan dalam upacara-upacara adat
tersebut dilakukan secara gotong-royong karena mereka memegang konsep idela
kebudayaan saling membantu pekerjaan untuk meringankan pekerjaan atau dikenal
dengan istilah Mapalus. Luapan kegembiraan ditampakkan dengan tari dan nyanyi
serta makan dan minum yang bersifat istimewa.
Perkawinan yang membentuk keluarga batih menjadi peristiwa kehidupan yang
dipandang salah satu hal yang sangat penting dalam perjalanan kehidupan. Perasaan,
harga diri, martabat pribadi, keluarga dan kelompok ikut dipertaruhkan dalam
penyelenggaraan perkawinan. Selain itu penampilan status dan kedudukan seseorang
dalam masyarakat turutdi tampilkan melalui cara berbusana.
Tata cara pemakain baju Bobo juga erat kaitannya dengan konsep budaya lain yaitu Sirik
yaitu suatu pandangan bahwa tingkah laku dapat diamati sebagai perwujudan
kebudayaan yang mengandung lima hal pokok yaitu ade’, bicara, warik, rappang dan
sarak. Kelima hal pokok ini di Bugis disebut Pangngaredeng, dan di Makassar disebut
Pangngadakkang. Sirik merupakan motivasi untuk menegakkan kesadaran
mempertahankan martabat salah satunya melalui busana.

3. Baju Bodo Saat Ini
Sejalan perkembangan zaman, baju Bodo kemudian bertahan dan berkembang sebagai
busana tradisional Indonesia yang mencerminkan kebudayan dari Sulawesi Selatan.
Keberadaannya kini sudah menjadi milik seluruh bangsa Indonesia, terbukti pada acaraacara
tertentu di daerah lain selain Sulawesi Selatan, baju Bodo banyak di pakai sebagai
10
salah satu busana nasional Indonesia. Kedudukannya sebagai busana tradisional telah
bergeser menjadi lebih populer sebagai busana nasional. Salah satu contoh dipakainya
baju Bodo pada acara karnaval mulai dari kalangan taman kanak-kanak sampai para
pejabat terkemuka.
Untuk mempertahankan keberadaan baju Bodo, masyarakat setempat memproduksi kain
dan sarung tradisional Bugis-Makassar untuk dijual kepada masyarakat umum. Harga
sarung dijual dengan harga yang cukup terjangkau oleh seluruh kalangan masyarakat
yaitu berkisar antara empat puluh ribu sampai tiga ratus ribu rupiah. Seperangkat baju
Bodo lengkap dengan assessoris dan millineris imitasi kini banyak dijual seharga dua
ratus riburupiah.
Busana yang dibuat sesuai aslinya hanya dapat dilihat di museum. Pemakaian warna baju
Bodo sekarang ini tidak memperhatikan aturan status sosial. Kain yang digunakan tidak
lagi dari kain transparan ditambah pula pemakaian pakaian dalam khusus yang dipakai
bersamaan dengan sarung sutera.
Perkembangan baju Bodo baik pemakaiannya di masyarakat luas maupun bentuk dan
modelnya tidak terlepas dari peran perancang busana nasional yang aktif berkreasi
membuat modifikasi baju Bodo sebagai salah satu cara mempertahankan budaya
nasional. Salah satu perancang yang aktif melakukan inovasi pada baju Bodo adalah
Edward Hutabarat. Beliau melakukan riset untuk mengangkat baju Bodo ke jenjang
internasional agar busana tradisional Indonesia dikenal di mancanegara dan di lingkungan
Indonesia sendiri baju Bodo menjadi populer dan menjadi busana nasional.


2.TEKNIK PEMBUATAN
a. Bagian blus baju Bodo
1) Garis lingkar lubang leher mempergunakan garis V.
2) Bentuk dasar baju Bodo secara geometris adalah bujur sangkar bila dibentuk 2
dimensi (shape) dan berbentuk kubus bila dibentuk 3 dimensi (form).
3) Bentuk lengan pada baju Bodo adalah model Setali atau Kimono Sleeve. Bentuk
lengan yang pendek menggelembung terbentuk karena pada saat pemkaian agak
disingsingkan ke atas.
4) Bentuk menggelembung pada bagian belakang terjadi karena letak lingkar lubang
leher tidak pada lipatan kain namun di letakkan pada bagian atas lapisan kain
bagian muka.
b. Bagian sarung
1) Sarung yang dipergunakan sebagai padanan baju Bodo biasanya mempergunakan
lipitan kain pada bagian tengah belakang badan.
2) Panjang sarung merupakan ukuran Longdress.
3) Bentuk sarung yang biasanya dipergunakan berupa kain yang berbentuk persegi
panjang disambungkan bagian ujung sisi-sisinya sehingga membentuk silinder.

                                                                                   




Gambar Proporsi Tubuh Pada Desain Baju Bodo


3.SIMPULAN
   Simpulan yang dapat ditarik pada pembahasan tugas analisa morfologi ini adalah :
a. Ukuran merupakan hal yang sangat pokok dan mendasar dalam membuat analisa
morfologi pada obyek desain.
b. Modifikasi pada busana daerah merupakan upaya mencari alternatif mencari aspek
baru baik dari segi bentuk, motif, corak, warna, ukuran namun tidak meninggalkan
ciri khas utama.
c. Ciri khas utama yang tidak berubah pada modifikasi baju Bodo karya Edward
Hutabarat ini adalah bentuk garis luar baju Bodo yaitu bentuk bujur sangkar atau
kubus. Selain itu pada bagian bahu tidak ada jahitan sambungan dan bentuk blus yang
menggelembung.
d. Baju Bodo memiliki desain struktur berupa silhoutte berbentuk Bustle Silhoutte yang
tampak pada bagian blus yang menggelembung dan bagian belakang sarung yang
berupa lipitan kain dan menggelembung juga. Efek menggelembung ditimbulkan pula
dari tekstur kain yang digunakan yaitu sutera yang kaku.


2.ANALISIS BAJU BODO
    A.FUNGSI
FUNGSI BAJU BODO adalah sebagai baju yang dipakai pada acara-acara adat seperti pada saat acara perkawinan  pengobatan,dan pada saat acara-acara pemilihan  seperti pemilihan kallolo,naddara di daerah Sulawesi dan dipakai pula pada acara-acara adat serta dipakai pada HUT RI pada tanggal 17 Agustus
B.TUJUAN
          Tujuan dibuatnya baju bodo adalah  Sebagai Salah Satu Busana Tradisional Indonesia dari Daerah SULAWESI SELATAN dan merupakan  warisan dari leluhur kita yang masih menganut aliran animisme dan dinamisme pada zaman batu muda

C.NILAI – NILAI
   1.NILAI BUDAYA
       Nilai budaya yang terkandung dalam baju bodo adalah sebagai salah satu pakaian adat tradisional INDONESIA  yang berada didaerah SULAWESI SELATAN  yang memiliki motif warna dan bentuknya unik seperti warnanya yang bermacam-macam  sesuai dengan usia yang memekai baju bodo tersebut seperti yang telah dijelaskan di atas sedangkan bentuknya yang unik seperti baju yang berbentuk persegi  empat dan dipasangkan dengan lipa sabbe serta cara memakainya beragam-ragam,ada yang dipegang dengan tangan, ada juga yang diikat  serta memakai karet.
2.Nilai Artistik
            Nilai artistic yang terdapat dalam baju bodo adalah nilai-nilai keindahan yang terkandung pada suatu karya seni.Baju bodo ini mempunyai keunikan tersendiri dari baju-baju lainnya dimana baju ini member kesan yang menarik yaitu mempunyai bentuk yang sederhana mempunyai warna yang bermacam-macam ,tekstur kainya yang panjangnya hingga ke tanah , sehingga merupakan 2 x panjang busana dengan
lebar  1 m. Kain itu kemudian dilipat menurut panjangnya. Kedua sisanya dijahit, lalu
disisakan 12 cm sebagai lubang lengan. Bagian lubang lengan waktu memakainya agak
disingsingkan sehingga lengan menggelembung. Sarung tidak diikat pada pinggang
namun hanya dipegang saja dengan tangan kiri tetapi ada juga yang memakai karet pada acara-acara perkawinan yang bertindak sebagai pagar ayu.
    Ada pun tatrias rabut yang digunakan saat memakai baju bodo:
1. Sanggul yang letaknya rendah dengan hiasan tusuk sanggul emas besar berupa
kuntum bunga-bunga palsu dari kain, dan kembang goyang berupa bando yang
berbentuk setengah lingkaran dipakai membujur dihiasi bunga-bunga emas.
2. Untuk acara resmi rambut ditata dengan model sasak sedikit tinggi (sigara).
3. Atau sanggul agak rendah dan diletakkan agak ke sebelah kanan, berhias tusuk konde
dan di bagian pelipis kanan dan kiri diselipkan kembang goyang emas. Sederet bunga
serempa dan bunga seruni menghiasi seputar sanggul.


3.NILAI  EKONOMI
 NILAI EKONOMI PADA BAJU BODO kini sangat tinggi harganya, Bodo lengkap dengan assessoris dan millineris imitasi kini banyak dijual seharga dua ratus ribu,
 Akan tetapi menurut saya baju bodo  tidak diperjual belikan melaingkan hanya untuk di persewakan bagi yang membutuhkannya pada saat acara-acara tertentu seperti acara-acara istiadat,acara perkawinan,serta acara-acara kesenian daerah karna baju bodo sekarang tidak sesuai aslinya seperti aslinya yang tgerdapat di musium

4.NILAI RELIGI
        Nilai religi yang terkandung pada baju bodo adalah nilai-nilai agama (kepercayaan) bagi setiap masyarakat SULSEL , sebab pada awal mulanya baju bodo  bodo Pada dasarnya baju bodo dipakai pada acara-acara ritual,kematian









gambar-gambar baju bodo
                        

                











DAFTAR PUSTAKA

http://www.google.co.id/search?hl=id&client=firefox-a&rls=org.mozilla%3Aid%3Aofficial&channel=s&q=baju+bodo&aq=f&aqi=g10&aql=&oq=&gs_rfai=
id.wikipedia.org/wiki/Baju_bodo
baju bodo
www.rappang.com/2008/12/makna-warna-baju-bodo
http://www.google.co.id/search?hl=id&client=firefox-a&rls=org.mozilla%3Aid%3Aofficial&channel=s&q=asal+usul+baju+bodo&btnG=Telusuri&aq=f&aqi=&aql=&oq=&gs_rfai=
d.wikipedia.org/wiki/Indonesia
http://www.google.co.id/search?q=asal+usul+baju+bodo&hl=id&client=firefox-a&rls=org.mozilla:id:official&channel=s&ei=hJCkTIuMN4mecYTdlbUI&start=10&sa=N

Reaksi:

0 komentar:

Poskan Komentar